BANJARMASIN, Refrensi.id – Pelaksanaan reses ketiga masa sidang kedua Anggota DPRD Kota Banjarmasin, Saut Nathan Samosir, mengungkap persoalan serius di sektor pendidikan. Di Kelurahan Basirih, masih ditemukan belasan anak yang terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi dan belum tersentuh program bantuan pendidikan dari pemerintah.
Temuan tersebut terungkap setelah warga menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kegiatan reses. Berdasarkan aspirasi masyarakat, sedikitnya lebih dari 10 anak tidak lagi melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah. Ironisnya, mereka disebut belum terakomodasi dalam program jaminan pendidikan maupun bantuan pemerintah yang seharusnya dapat mencegah anak putus sekolah.
Saut Nathan Samosir mengaku prihatin sekaligus terkejut dengan kondisi tersebut. Menurutnya, fakta itu menunjukkan masih adanya celah dalam sistem pendataan dan penyaluran program pendidikan bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Saya cukup kaget mendengar langsung dari masyarakat bahwa masih ada lebih dari 10 anak di Basirih yang putus sekolah karena faktor ekonomi. Yang lebih memprihatinkan, mereka ternyata tidak tercover dalam program bantuan pendidikan. Ini menjadi pertanyaan besar, mengapa mereka bisa luput dari perhatian pemerintah,” ujar Saut.
Politisi DPRD Kota Banjarmasin itu menilai persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai kasus biasa. Ia menegaskan, apabila pemerintah memiliki sistem pendataan yang akurat serta pengawasan yang berjalan optimal, anak-anak dari keluarga kurang mampu semestinya sudah teridentifikasi sejak awal dan memperoleh intervensi sebelum memutuskan berhenti sekolah.
“Kalau data penerima bantuan benar-benar valid dan diperbarui secara berkala, seharusnya anak-anak ini tidak sampai putus sekolah. Artinya ada yang perlu dievaluasi, baik dari sisi pendataan maupun penyaluran program. Jangan sampai bantuan hanya bagus di atas kertas, tetapi masyarakat yang paling membutuhkan justru tidak merasakannya,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut atas aspirasi tersebut, Saut menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin agar dilakukan pendataan dan verifikasi terhadap anak-anak yang putus sekolah, sekaligus mencarikan solusi agar mereka dapat kembali melanjutkan pendidikan.
“Saya akan meminta Dinas Pendidikan segera turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan mencari solusi konkret. Negara tidak boleh membiarkan satu pun anak kehilangan hak memperoleh pendidikan hanya karena persoalan ekonomi,” katanya.
Menurut Saut, temuan dalam reses ini menjadi peringatan bahwa persoalan akses pendidikan di Kota Banjarmasin masih memerlukan perhatian serius. Ia meminta pemerintah daerah tidak hanya berorientasi pada capaian angka partisipasi sekolah, tetapi juga memastikan tidak ada anak yang tercecer dari sistem pendidikan akibat lemahnya pendataan maupun kurang optimalnya pengawasan.
“Anak putus sekolah bukan sekadar angka statistik. Di balik itu ada masa depan yang terancam hilang. Pemerintah harus menjadikan persoalan ini sebagai prioritas, bukan menunggu kasus serupa kembali ditemukan dalam kegiatan reses anggota dewan,” pungkasnya.










+ There are no comments
Add yours