BANJARMASIN, Refrensi.id – Sosok almarhum KH Ahmad Zuhdiannor atau yang akrab disapa Guru Zuhdi bukan hanya dikenal sebagai ulama kharismatik di Kalimantan Selatan, tetapi juga memiliki kedekatan emosional yang mendalam dengan klub kebanggaan Banua, Barito Putera.
Di balik keseharian beliau sebagai pendakwah, tersimpan kisah hubungan hangat dan penuh makna dengan Laskar Antasari.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, Barito Putera bukan sekadar klub sepak bola, melainkan simbol identitas dan kebanggaan daerah.
Dalam perjalanan panjang klub ini, ada peran doa serta nasihat seorang ulama panutan yang menjadi penguat spiritual.
Semasa hidupnya, Guru Zuhdi beberapa kali menerima kunjungan manajemen, pemain, hingga official Barito Putera sebagai dewan penasehat klub.
Silaturahmi itu berlangsung sederhana, tanpa protokoler berlebihan, namun sarat makna. Pertemuan tersebut diisi dengan doa, petuah, dan harapan agar Barito Putera senantiasa diberi kekuatan, keselamatan, serta keberkahan dalam setiap pertandingan.
Dalam berbagai kesempatan, Guru Zuhdi mengingatkan pentingnya menjaga niat dan akhlak dalam bertanding. Menurut beliau, kemenangan sejati tidak semata-mata diukur dari skor di papan hasil, melainkan dari sportivitas, kekompakan, serta kemampuan menjaga nama baik daerah.
“Main bola itu bukan hanya soal fisik, tapi juga hati,” begitu pesan yang kerap disampaikan kepada para pemain, sebagaimana dikenang oleh Owner Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman.
Selain itu, beliau juga berpesan agar para pemain senantiasa rendah hati, menjauhi kesombongan, serta memperbanyak rasa syukur.Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun karakter atlet profesional.
Menurut Hasnuryadi, doa dan nasihat dari Guru Zuhdi menjadi suntikan semangat tersendiri bagi tim, terutama saat Barito Putera berada dalam tekanan kompetisi. Ketatnya persaingan, ekspektasi suporter, hingga ancaman degradasi kerap menguji mental para pemain.Di momen-momen itulah nilai religius menjadi penguat batin.
Kedekatan ini juga mencerminkan karakter masyarakat Banua yang religius, di mana sepak bola dan nilai keagamaan berjalan beriringan. Barito Putera tumbuh tidak hanya dari dukungan teknis dan finansial, tetapi juga dari kekuatan moral masyarakat serta doa para ulama.
Bagi para suporter, sosok Guru Zuhdi bukan sekadar ulama, melainkan figur yang turut mendoakan kebanggaan mereka. Ada rasa bangga tersendiri ketika Laskar Antasari mendapat restu dan doa dari tokoh yang begitu dihormati.
Meski Guru Zuhdi telah wafat, kenangan dan jejak keteladanan beliau tetap hidup. Setiap kali Barito Putera berlaga, tak sedikit yang mengenang doa-doa tulus yang pernah dipanjatkan. Spirit tentang pentingnya akhlak, persaudaraan, dan kebersamaan masih terasa relevan hingga kini.
Kedekatan antara Guru Zuhdi, Hasnuryadi Sulaiman, dan Barito Putera menjadi bukti bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah ruang kebersamaan, identitas daerah, serta sarana menanamkan nilai-nilai moral.
Hingga kini, banyak yang percaya, jejak doa itu masih setia mengiringi setiap langkah Barito Putera di kancah sepak bola nasional, menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu Banua.





+ There are no comments
Add yours